Nilai PKN Dalam Masyarakat Multikultural

Slighhouse – Mendidik, jika ditilik dari asal katanya berarti memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan, diperlukan adanya ajaran, tuntutan, dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan menurut Bahasa Yunani, pendidikan berasal dari kata �Pedagogi�, yaitu ilmu dan seni mengajar anak. Dalam pendidikan, ada usaha atau proses, selain pendidik, perserta didik, materi, capaian (kognitif, afektif, psikomotor. Jadi pada dasarnya pendidikan adalah usaha atau proses mentransformasikan nilai-nilai pada peserta didik untuk hidup selamat dunia dan akhirat.

Nilai yang dimaksud bukan saja dalam artian soal benar atau salah. Tapi juga soal dikehendaki atau tidak, dan disenangi atau tidak. Nilai juga merupakan kualitas ketentuan yang bermakna bagi kehidupan manusia perorangan, masyarakat, bangsa dan negara. Seperti yang dikatakan Nietzche seorang pakar postmodern, nilai adalah tingkat atau derajat yang diinginkan oleh manusia. Nilai juga merupakan tujuan dari kehendak manusia yang benar dan sering di tata menurut susunan tingkatannya, yaitu dimulai dari bawah; nilai hedonis (kenikmatan), nilai utilitaris (kegunaan), nilai biologis (kemuliaan), nilai diri estetis (keindahan, kecantikan), nilai- nilai pribadi (sosial, baik), dan nilai religius (kesuciaan).

Berdasarkan konsep di atas, bisa dikatakan bahwa semua bentuk pendidikan, baik eksakta, sosial, humaniora, adalah perwarisan nilai-nilai untuk keselamatan dunia akhirat. Pedidikan Matematika misalnya yang mewariskan nilai jelas, tepat, logis, sistematis. Disini anak didik dilatih berhitung 4 + 4 = 8, sehingga akan terlatih bertindak jelas dan tepat sehingga selamat dunia akhirat. Begitu juga dengan pendidikan lainnya yang juga mewariskan nilai-nilai tersendiri untuk keselamatan hidup dunia akhirat. Saat ini yang menjadi pertanyaan besar bagi kita adalah nilai-nilai apa yang akan dikembangkan, diwariskan, dan dididik oleh PKn dalam masyarakat multikultural?

Pendidikan kewarganegaraan multikultural diperlukan untuk menafsirkan pentingnya mengatasi tantangan ini. Kewarganegaraan pada hakikatnya merupakan satu-satunya mata pelajaran yang harus membentuk karakter siswa sebagai warga negara yang baik. Tantangan bagi guru kewarganegaraan tentu tidak mudah karena pembelajaran PKn di Indonesia masih minim. Seperti yang ditunjukkan oleh David Kerr, Pendidikan Kewarganegaraan didefinisikan secara sempit di bagian terdalamnya, dan hanya beberapa aspirasi dalam hal Pendidikan Kewarganegaraan yang formal, berbasis konten, berbasis pengetahuan, dan proses pengajaran disorot dan hasilnya mudah diukur.

Jika kewarganegaraan diajarkan hanya pada titik minimal ini, dikhawatirkan tidak akan menyentuh nilai warisan yang diharapkan. Mengapa kita tidak berusaha mengatur pendidikan penduduk sipil sebaik mungkin? David Kerr juga menyatakan bahwa maksimum dicirikan oleh definisi yang luas, mengakomodasi aspirasi yang berbeda dan menggabungkan elemen masyarakat yang berbeda, kombinasi pendekatan formal dan informal, yang didefinisikan sebagai “kewarganegaraan” dan berfokus pada partisipasi siswa dengan mengikuti topik Interaktif mencari konten dan proses di dalam dan di luar kelas. Sementara itu, kompleksitas hasil belajar mempersulit perolehan dan pengukuran hasil.

Selama ini kita telah melihat bahwa dalam pendidikan kewarganegaraan nilai-nilai yang dikembangkan adalah nilai-nilai yang bersumber dari mentalitas dialektis yang digagas Socrates. Nilai ini dihasilkan dari proses pikiran manusia. Bahwa sesuatu dipandang baik dan buruk sebagai hasil proses berpikir nalar manusia, yang mengarah pada perilaku dan nilai-nilai yang hidup dalam budaya masyarakat. Tapi itu akan terus berubah karena pemikiran akal manusia.

Dalam keadaan ini, nilai default yang akan diwariskan ditampilkan dalam “abu-abu”. Mereka akan bentrok satu sama lain. Nilai-nilai toleransi, gotong royong, gotong royong, kebebasan dan persaudaraan dimaknai secara berbeda oleh individu dan masyarakat. Nilai-nilai yang berkembang saat ini pada hakikatnya adalah pengaruh dari peningkatan nalar yang dibawa Socrates ke era Yunani, yang diadopsi oleh para sarjana Barat dan mempengaruhi pemikiran dunia Timur (Indonesia). Ini tentu saja karena keadaan masyarakat Barat tidak memiliki wahyu dibandingkan dengan dunia Timur, di mana wahyu dikirim untuk menguasai agama-agama besar dunia seperti Islam.

Bagi kita sebagai bangsa Indonesia yang menjadi sumber nilai dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, Pancasila adalah. Artinya, seluruh tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara menggunakan Pancasila sebagai landasan moral atau norma dan sebagai tolak ukur dari sikap, perbuatan, dan perilaku baik, buruk, dan benar, dan buruk bangsa Indonesia.

Nilai Pancasila adalah nilai batiniah yang kebenarannya dapat dibuktikan secara obyektif dan mengandung kebenaran universal. Oleh karena itu peninjauan Pancasila dilandasi ketuhanan, umat, umat dan keadilan, sehingga nilai-nilai Pancasila bersifat obyektif. Pancasila dirumuskan oleh para pendiri negara yang mengandung nilai-nilai luhur untuk menjadi dasar negara yang bertingkat tertinggi adalah Tuhan, artinya semua nilai yang dikembangkan harus dilandasi oleh prinsip ketuhanan.

Tentu saja timbul pertanyaan bagi kita bahwa tuhan yang kita pahami dalam masyarakat multikultural kita bukan hanya tuhan Islam, tetapi ada banyak tuhan lain menurut agama yang mereka percayai. Untuk itu, nilai-nilai yang harus kita warisi dari mahasiswa PKn adalah nilai inti, nilai instrumental dan nilai praktis. Nilai inti berasal dari nilai budaya atau budaya yang bersumber dari bangsa Indonesia sendiri yaitu yang berakar pada budaya menurut UUD 1945 yang mencerminkan hakikat nilai budaya. Nilai instrumental adalah implementasi nilai-nilai dasar secara umum, biasanya berupa nilai-nilai sosial atau norma hukum, yang kemudian mengkristal dalam kelembagaan sesuai dengan kebutuhan tempat dan waktu. Nilai praktis adalah nilai yang sebenarnya kita lakukan dalam kenyataan.

Sumber: https://riverspace.org/

Nilai PKN Dalam Masyarakat Multikultural

Navigasi pos